KUDUS, MPMJATENG.COM -Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhamamdiyah (PDM) Kudus melaksanakan kegiatan pelatihan dan pendampingan bagi para peternak kambing dan domba di Kabupaten Kudus.
Sebanyak 100 peternak, termasuk para pemula, turut serta dalam pelatihan yang berlangsung pada Ahad, 21 Januari 2024. Mereka mewakili ranting Muhammadiyah di Kabupaten Kudus.
Hadir sebagai pembicara pada kegiatan ini adalah praktisi ternak domba, Khulsun Nuha, S.Pt serta Ketua Jamaah Tani Muhammadiyah (Jatam) Jawa Tengah, Ir Hery Sugiartono.
BACA: MPM LH dan Kokam Temanggung Bekerjasama dengan BAZNAS Gelar Bedah Rumah dan Plesterisasi
Ketua MPM PDM Kudus, Ngadiru Setiawan, menjelaskan bahwa kegiatan pelatihan dan pendampingan ternak domba ini merupakan bagian dari program pertanian terintegrasi yang diterapkan oleh MPM PDM Kudus.
Program ini dimulai dengan menerapkan langkah-langkah yang mudah diadopsi dan dapat dijalankan oleh para petani, yakni budidaya ternak kambing dan domba.

“Hadir dari 71 ranting di Kudus. Setiap ranting mengirimkan dua orang. Ada yang memang sudah budidaya ternak kambing atau domba dan ada yang pemula. Sekitar 100-an yang hadir,” kata dia
Menurutnya budi daya domba termasuk ke dalam budi daya ternak yang membutuhkan modal untuk usaha komersial yang relatif lebih rendah dibandingkan ternak lainnya, serta mudah perawatannya. Selain itu beternak domba cocok untuk ekonomi rakyat karena tidak membutuhkan lahan yang luas.
Domba merupakan ternak yang produktif memiliki populasi yang berkembang cepat. Permintaan ternak domba juga masih terbuka luas seiring dengan banyaknya peminat konsumen pada hasil olahan kuliner.
Harapannya pada tahap awal ini petani bisa menjalankan peternakan domba untuk meningkatkan taraf ekonomi mereka. Dari beternak domba ini petani ada pendapatan yang kontinyu.
“Berbicara pertanian terintegrasi, penerapannya sedikit rumit. Kita mulai dari yang sederhana, petani bisa melakukan dan nantinya arahnya ke sana,” kata dia.
Untuk itu, usai pelatihan ini akan ada pendampingan bagi peserta. Jadi nantinya para peternak ini tidak bergerak sendiri-sendiri. Akan ada sinergi dan kolaborasi sehingga akan terbentuk ekosistem mulai dari budidaya hingga penjualan, serta terintegrasi dengan pertanian.