Dan itu sudah dilakukan melalui pembentukan Jamaah Tani Muhammadiyah (JATAM). Perlahan namun pasti, JATAM sudah dibentuk di beberapa wilayah di Jawa Tengah.
Bahkan sudah ada yang berjalan seperti di Sragen, Klaten hingga Banyumas. Malah di Sragen dan Klaten, JATAM sudah memiliki wadah koperasi. Ini tentu sebuah kemajuan pesat untuk melangkah ke garis start menuju korporasi petani.
Baca Juga : Muhammadiyah dan Kerja Pemberdayaan
Karena koperasi adalah salah satu prasyarat menuju korporasi petani. Dan ini, tentu akan terus digarap dan dikembangkan di daerah-daerah lainnya.
Dengan begitu, ikhtiar MPM Jawa Tengah untuk membuat sebuah korporasi berbentuk Perseroan Terbatas (PT), insya Allah akan semakin cepat terealisir.
Bagi Muhammadiyah, mewujudkan cita-cita besar ini bisa dilakukan lebih cepat. Sebab Muhammadiyah punya sumberdaya di berbagai lini. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sangat banyak.
Baca Juga : MPM PWM Jateng Inisiasi Budidaya Mikroalga
Persyarikatan punya Perguruan Tinggi Muhammadiyah/Aisyiyah maupun Rumah Sakit Muhammadiyah/Aisyiyah yang siap menjadi konsumen hasil panen para petani.
Apalagi, Muhammadiyah juga sudah memiliki PT. Lembaga Usaha Kelompok Unggul (LUKU). Melalui Badan Usaha Milik Muhammadiyah (BUMM) ini, mobilisasi dan pemasaran produk JATAM bisa berjalan efektif.
PT. LUKU memainkan peran sebagai distributor tunggal beras JATAM. Sedangkan MPM PWM Jawa Tengah memiliki peran ganda, supplier sekaligus marketing.
Baca Juga : Perberasan Jadi Fokus Pemberdayaan MPM Jateng
Beras yang disuplai oleh MPM Jawa Tengah ke PT LUKU merupakan hasil panen para petani. MPM Jawa Tengah juga mendistribusikan beras ke AUM-AUM yang ada di wilayahnya.
Ke depan, tentu saja tidak hanya komoditas beras. Karena AUM juga butuh pasokan komoditas lain seperti sayuran, buah maupun daging. Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah maupun MPM Jawa Tengah sudah menyepakati komitmen ini.



